Filisofi Hidup Seperti Rumput

Rumput, bagi sebagian orang merupakan tanaman pengganggu namun bagi sebagian lainnya rumput merupakan inspirasi.

“…coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…” sepenggal lirik dari Ebit.G.Ade

Lirik diatas menunjukan bahwa rumput juga dapat menginspirasi seseorang untuk menciptak lirik lagu yang syahdu. Dalam karya seni, rumput juga menjadi objek yang selalu mendapatkan tempat tersendiri. Dalam hidup, bahkan rumput liar sekalipun dapat mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana seharusnya hidup.

Ketika saya berjalan dan merenungkan sesuatu, saya melihat ada rerumputan yang hidup disela-sela trotoar di jalanan tersebut. Sedikit berfikir, saya mendapatkan beberapa hal yang menurut saya bisa jadi pelajaran untuk hidup saya pribadi. Mungkin bagi anda juga.

rumput

Betapa Rendah Hatinya sang Rumput

Silakan kau injak-injak rumput yang ada dijalanan meskipun kau tak pernah memperdulikan hal itu sekalipun. Namun rumput ikhlas dan tak pernah menuntut sama sekali pada kita yang berlaku demikian. Tak pernah sekalipun rumput marah dan memaki kita yang telah menginjak-injaknya. Namun bagaimana dengan kita manusia, begitu mudah tersinggung dan begitu mudah marah bahkan untuk hal yang amat sangat kecil sekalipun jika mengganggu kita.

Rumput hidup apapun kondisinya

Rumput tak pernah memilih tempat hidupnya baik itu subur, lembap, basah, berlumpur, ataupun kering. Pasti kita akan menemukan rumput dan sejenisnya hidup tumbuh subur disana berbeda dengan tumbuhan lainnya. Bahkan disela-sela batu cadas sekalipun, rumput dapat hidup dan berkembang disana.

Namun berbeda dengan kita manusia, kebanyakan dari kita mengeluh dengan apa yang kita dapatkan. Tidur di rumah yang mewah dan kasur yang nyaman masih terasa kurang, apalagi jika kita hidup di kolong jembatan. Selalu ada alasan untuk kita mengeluhkan atas apa yang kita dapatkan dalam hidup. Lupa bersyukur tepatnya.

RUmput

Rumput tak pernah menyerah

Rumput tak pernah menyerah, berapa kalipun ia dibasmi sebanyak itu pula ia mencoba untuk bertahan. Kita sudah mencoba untuk membasminya dengan cangkul, parang dan sebagainya namun tak lama ia sudah tumbuh dan berkembang kembali. Kita juga sudah mencoba memberikan racun berupa pestisida, tetap ia akan bangkit kembali.

Bagaimana dengan kita, manusia? Mudah sekali menyerah dan putus asa. Baru berjuang sedikit dan mendapatkan hambatan, kita sudah kehilangan percaya diri, putus asa dan kemudian menyerah di tengah jalan. Memang benar Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang lemah, namun hal itulah yang membuat kita seharusnya belajar untuk jadi kuat.

 Rumput bersabar

Terkadang kita tidak melihat kehadiran rumput di musim kemarau, bukan berarti sang rumput telah mati ataupun lenyap dari perkarangan rumah kita. Itu hanya masa dimana rumput sedang bersabar menunggu untuk mendapatkan kesempatan yang baik guna berkembang dengan subur di musim penghujan.

Hal inilah yang bisa kita contoh, ada masa dimana kita harus bersabar dan menunggu sebuah kesempatan yang baik. Dalam masa penantian itu kita bisa memamfaatkan waktu untuk mengatur strategi yang tepat untuk kita gunakan pada saat itu nanti.

Sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sang rumput, namun itu dulu yang dapat saya bagikan.

Sebagai manusia, kita diharuskan pandai membaca, membaca kalimat-kalimat yang tersirat di alam. Membaca tanda-tanda dan menggali hikmah yang terdapat disana. (“Andiero”)

Semoga bermamfaat!!!

4 responses to “Filisofi Hidup Seperti Rumput

  1. super sekali kakak

  2. Walapun begitu sebetulnya ada persamaannya dengan manusia pada umumnya yaitu memiliki warna hijaunya yang alami..
    Namun sayangnya samanya kalau pas manusia lagi lihat duit….

    Siip and mantap ulasannya..

Ayo Berikan Komentar Terbaik Anda Untuk Artikel Yang Saya Buat Ini!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s