Wajah Mereka yang Menghias Sudut Jakarta

Syukurlah dulu mama membesarkan kami dengan penuh harga diri dan bertanggung jawab sebagai seorang Ibu dan juga Ayah.

Wajah mereka yang polos dan tidak berdosa, terlelap dalam kondisi yang begitu tidak layak untuk anak seumuran mereka. Mereka yang masih begitu lugu, sama sekali tidak tahu dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Dalam kondisi tersebut, mereka dipeluk oleh orang tuanya atau orang yang berlaku seperti orang tuanya dan memamfaatkan kondisi mereka untuk mengeruk keuntungan.

pengemis dan anak-anakSumber: Kompasiana.Com

Pernah dalam suatu berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, jika praktek-praktek semacam menyewakan bayi dan balita untuk dijadikan “Alat Pemancing” bagi para pengemis dan gelandangan marak terjadi saat ini. Dan apakah anak-anak itu adalah mereka yang saat ini ada di depan mata saya.

Sangat kejam kurasa, memperlakukan anak-anak seumuran mereka untuk dipekerjakan sebagai alat guna mendapatkan keuntungan bagi pribadi. Dimana sebenarnya hati dan fikiran orang tuanya. Begitu teganya memperlakukan buah hatinya untuk dijadikan “Pancingan” guna mendapatkan sedikit materi dari orang yang merasa iba. Sungguh ironi.

Kondisi ini terlihat hampir disepanjang tempat di Jakarta ini, di jembatan penyebrangan, di tempat makan, di mall dan pasar, atau disepanjang jalan khususnya tempat yang cukup ramai. Seolah “Sang Orang Tua” tahu dimana tempat yang bagus untuk mendapatkan cukup uang dengan mengandalkan wajah-wajah polos mereka.

Setiap melihat mereka, melihat wajah mereka yang begitu polos dan lugu, hatiku tersentak dan merasa kasihan dan dilain sisi begitu dada ini terasa begitu sesak.,begitu memprihatinkan. Ingin rasanya memberikan sedikit uang yang ada dibalik saku celana ini, tapi kemana nantinya uang yang kuberikan. Mereka yang akan mempergunakannya atau malah akan dirampas oleh “Sang Orang Tua” yang tega memperkerjakan mereka.

Terbayang dalam benakku tentang nasib mereka kedepannya. Akan jadi apa anak-anak kecil ini, akan seperti apa generasi penerus bangsa ini. Akankah mereka kelak mendapatkan hak untuk mengenyam bangku sekolah atau malah nasib mereka sudah ditentukan dijalanan. Dimana hati dan pikiran orang tua mereka. Apakah kedua orang tuanya tidak sanggup untuk mencari nafkah dan memberikan sedikit kasih sayang dan hak-hak mereka.

Orang tua seperti apa yang tega menjadikan mereka seperti ini, merenggut masa kecilnya dan merampas juga masa depan mereka. Padahal putera dan puteri mereka ini adalah asset untuk mereka, asset yang berguna dunia dan akherat. Merekalah yang kelak akan membahagiakan hidup kedua orang tuanya.

Teringat dengan kondisi kami dulu, selepas kepergian ayah. Mama seorang diri membesarkan kami berenam. Entah apa yang dilakukannya dulu hingga Mama sanggup membesarkan kami semua dan memberikan kami pendidikan hingga bangku kuliah. Tidak ada uang pensiun dari ayah, tidak ada juga harta yang bisa dijual untuk kami gunakan. Hanya ada rumah gubuk peninggalan alm.ayah tapi tempat itu masih kami gunakan untuk berteduh dari panas dan hujan hingga detik ini.

Syukurlah dulu mama membesarkan kami dengan penuh harga diri dan bertanggung jawab sebagai seorang Ibu dan juga Ayah.

Terima kasih Ma, tak ada apapun yang dapat membalasmu kecuali dari-Nya. Tak akan pernah diri ini sanggup membalas jasamu meskipun aku hidup 1000 Tahun.

“Ya Allah, Ampunilah aku dan kedua orang tuaku yang telah memberikan kasih sayangnya dan mendidikku dari kecil. dan tempatkanlah mereka berdua ditempat yang mulia disisimu kelak”. Hanya sebuah do’a kecil sehabis sholat yang bisa ku buat untuk kedua orang tuaku.

Jadi rindu pulang, heheheheh.

2 responses to “Wajah Mereka yang Menghias Sudut Jakarta

  1. Sungguh bersyukur mempunyai ortu yg dpt membesarkan anak-anaknya menjadi orang berguna…
    Saat ini kedua ortuku dah tiada… dan sepertinya kurang lengkap banget beberapa keberhasilan ku tanpa berbagi dgn mereka…

    Selama ortu kita masih ada berbagilah dgn mereka.. Itulah keberhasilan yang paling lengkap selama hidup kita..
    Itu nasehat Ku.. Menyesal kemudian tak berguna..

Ayo Berikan Komentar Terbaik Anda Untuk Artikel Yang Saya Buat Ini!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s